News Update :
Powered by Blogger.

Resor Mewah Ritz-Carlton Mandapa Bali

Penulis : Unknown on Monday, May 12, 2014 | 12:54 PM

Monday, May 12, 2014

 

Resor Mewah Ritz-Carlton Ketiga di Dunia


Dalam dua hingga tiga tahun ke muka, The Ritz-Carlton akan mengoperasikan resor dan hotel mewah sebanyak 15 unit di Mesir, Tunisia, Maroko, Republik Rakyat Tiongkok, Panama, dan Indonesia. Dengan demikian, The Ritz-Carlton akan memiliki 100 hotel dan resor di seluruh dunia sampai 2016 nanti.

Di Indonesia, portofolio The Ritz-Carlton terbaru adalah Mandapa Ubud. Fasilitas akomodasi mewah ini merupakan The Ritz-Carlton Reserve kedua di Asia setelah Phulay Bay, dan ketiga secara global.


Kepala Operasional The Ritz-Carlton, Bob Kharazmi, mengatakan, saat ini merupakan masa produktif pertumbuhan dengan meningkatnya permintaan atas kehadiran The Ritz-Carlton di seluruh dunia.
Wisatawan semakin penasaran untuk menjejaki kawasan liburan tradisional dan mengeksplorasi budaya dan gaya hidup Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika.

"Secara bersamaan, kami juga telah mengagendakan Timur Tengah, Asia, Australasia, dan India  sebagai kunci pembangunan dalam periode 2016 untuk menjaga momentum pertumbuhan kami. 

Meningkatnya jumlah pengunjung dan perkembangan menarik di bidang infrastruktur, kami mengantisipasinya dengan penambahan properti," kata Kharazmi.



Selain Mandapa Ubud yang sangat kental dengan tradisi budaya yang eksotik serta arsitektural unik menempel di tebing kawasan, The Ritz-Carlton akan menambah lima properti di kawasan Asia dengan konsentrasi pada pengembangan di Malaysia dan India.

"Asia teratas sebagai pusat pariwisata dan bisnis yang menarik investasi dan pengunjung dari seluruh dunia. Setelah Bali, tujuan berikutnya adalah Bangalore. 

Di kedua kawasan ini, kami punya kepentingan besar untuk mengisi celah pasar perhotelan mewah dengan layanan pribadi dan keunikan lokal," imbuh Kharazmi.

Demikian halnya dengan pasar Timur Tengah dan Afrika, The Ritz-Carlton juga akan memperluas pengaruhnya melalui pembukaan The Nile Ritz-Carlton di Kairo (Mesir), The Ritz-Carlton Tunis (Tunisia), The Ritz-Carlton Marrakech, The Ritz-Carlton Rabat dan Tamuda Bay di Maroko.


komentar | | Read More...

Hotel Alana Surabaya

Penulis : Unknown on Thursday, May 1, 2014 | 1:31 AM

Thursday, May 1, 2014

 

Paket Weekend Getaway The Alana Surabaya


Akhir pekan biasanya digunakan sebagian besar masyarakat Surabaya untuk bepergian ke luar kota bersama keluarga.

Sebaliknya banyak orang dari kota - kota lain di sekitar Surabaya justru memilih untuk menghabiskan akhir pekan dengan mendatangi pusat – pusat perbelanjaan di Surabaya, karena kota ini memang memiliki banyak mal dan plasa.

The Alana Surabaya melihat hal ini sebagai peluang bisnis yang bagus untuk menjaring lebih banyak tamu dengan menawarkan paket menginap yang mengakomodir kebutuhan mereka. Hotel Di Surabaya ini menyediakan Weekend Getaway bagi tamu yang ingin menghabiskan akhir pekan di Surabaya.


Menurut Public Relations Manager Alana Surabaya, Riza Ayuningtyas, promo spesial ini diperuntukkan bagi tamu yang menginap pada Jumat, Sabtu dan Minggu dengan tarif yang terjangkau dan keuntungan tambahan lain.

“Ketika check in menggunakan promo ini, tamu akan mendapatkan kupon gratis 2 skup es krim yang dapat dinikmati di Oryza Coffee Shop, akses untuk menggunakan fitness center dan kolam renang, serta akses WiFi berkecepatan tinggi di seluruh area hotel,” ujar Riza yang biasa disapa Icha pada Kamis (20/3/2014).



Pada saat masuk kamar, tamu akan disuguhi kue lezat dan gratis item minibar yang terdiri dari makanan ringan dan beberapa jenis minuman. Juga diskon 20% untuk makanan dan minuman di seluruh outlet F&B di hotel. Jika tamu datang bersama keluarga akan mendapat makan pagi untuk dua orang dewasa satu anak.

Selain itu, tersedia transportasi gratis untuk tamu yang ingin ke Royal Plaza atau ke Cito pada Sabtu dan Minggu. Jika tamu ingin melanjutkan perjalanan ke luar kota menggunakan pesawat, dapat diantar ke bandara secara gratis. Tamu juga bisa late check out hingga pukul 16.00.


komentar | | Read More...

Resort Di Pulau Gili Trawangan

 

Aston Sunset Beach Resort  


Bran Aston akhirnya tiba di pulau yang sangat indah, Gili Trawangan ini, Archipelago International mengambil alih dan rebranding dari Quinn Villas menjadi The Aston Sunset Beach Resort – Gili Trawangan.

"Kami sangat senang dapat memperkenalkan bran Aston ke pulau yang sangat menakjubkan Gili Trawangan ini. Merupakan salah satu dari tujuan wisata yang sedang diminati saat ini di Indonesia, kami sangat yakin akan kehadiran kami di daerah yang sedang berkembang ini, bersamaan dengan enam pembangunan hotel lainnya yang sedang berjalan," kata Norbert Vas, VP Sales & Marketing Archipelago International.


Merupakan Pulau Gili yang terbesar dari ketiga kepulauan Lombok Gili dan tujuan wisata yang populer bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata di kepulauaan yang terpencil, Gili Trawangan terkenal akan pantainya yang jernih dan merupakan lokasi diving dan lokasi snorkeling, berkat kehidupan biota lautnya yang melimpah dan batu karang yang berwarna warni di dalam jernih nya air laut.

The Aston Sunset Beach Resort  Gili Trawangan mempunyai lokasi yang sangat indah yang terletak di bagian barat pulau, dengan fasilitas 114 kamar, 10 one-bedroom pool villas dan 1 Royal Pool Suite. Setiap kamar dilengkapi dengan teras pribadi, dan untuk menambah kemewahan resor ini di lengkapi dengan private beach sambil menikmati suasana matahari terbenam di balik Gunung Agung.

Resor ini juga memiliki signature retaurant, sebuah lounge and bar, sebuah club lounge, sebuah pool bar dan 1 ruang pertemuan. Untuk aktifitas liburan, resor ini memiliki kolam renang, dive centre, spa, juga penyewaan sepeda bagi para tamu yang ingin menjelajahi Pulau Gili.



Rebranding resor ini di mulai pada bulan April 2014. Dapat ditempuh melalui Bali dan Lombok menggunakan penerbangan jarak pendek, juga dengan beberapa pilihan perahu cepat yang langsung bersandar di pulau.

Lebih lanjut Archipelago International memiliki 6 pembangunan hotel lainnya yang sedang dibangun di pusat kota Lombok, termasuk 2 favehotels dan Aston City Hotel di Mataram yang merupakan bintang 3, juga 1 Aston hotel bintang 4 dan 1 favehotel di Senggigi.

Senggigi juga dalam waktu dekat akan membuka Royal Kamuela – resor yang sangat mewah dari Archipelago International. Royal Kamuela akan menjadi kompleks bintang 5+ yang memiliki 50 private pool villas dan tepat berada di pantai Senggigi. Resor ini rencananya akan di buka pada bulan November tahun ini seperti dilansir dari laman beritasatu.


komentar | | Read More...

Indonesia Raya Keris

Penulis : Unknown on Saturday, April 5, 2014 | 4:43 PM

Saturday, April 5, 2014

 

Both a Weapon and Spiritual Object


The kris or keris is a distinctive, asymmetrical dagger from Indonesia Raya. Both a weapon and spiritual object, krises are often considered to possess magical powers. The earliest krises known were made around 1360 AD and most probably spread from the island of throughout Southeast Asia. 

Kris blades are usually narrow with a wide, asymmetrical base. The different metals formed into the blade give the steel its distinctive ‘watered’ appearance called pamor. The sheath is often made from wood, though examples from ivory, even gold, abound. A kris' aesthetic value covers the dhapur (the form and design of the blade, with around 150 variants), the pamor (the pattern of metal alloy decoration on the blade, with around 60 variants), and tangguh referring to the age and origin of a kris. 

A blade smith, or empu, makes the blade in layers of different iron ores and meteorite nickel. Some blades can be made in a relatively short time, while more legendary weapons take years to complete. In high quality kris blades, the metal is folded dozens or hundreds of times and handled with the utmost precision. Empu are highly respected craftsmen with additional knowledge in literature, history, the occult, etc.




Krises were worn everyday and at special ceremonies, with heirloom blades being handed down through successive generations. Both men and women wear them, though those for women are smaller. A rich spirituality and mythology developed around the weapon. Krises are used for display, as talismans with magical powers, weapons, sanctified heirloom, auxiliary equipment for court soldiers, as an accessory for ceremonial dress, an indicator of social status, a symbol of heroism, etc.

Until the 1990s, kris-making activities in Java had almost come to a standstill due to economic difficulties and changing socio-cultural values. However, thanks to several concerned kris experts, the tradition is being revived and kris craftsmanship has increased again.

Over the past three decades, krises have lost their prominent social and spiritual meaning in society. Although active and honoured empus who produce high quality krises in the traditional way can still be found on many islands, their number is dramatically decreasing, and it is more difficult for them to find successors to whom they may transmit their skills.
komentar | | Read More...

Wayang Kulit From Indonesia Raya

 

Traditional Form of Puppetry In Indonesia Raya


Wayang kulit is a famous traditional form of puppetry in Indonesia Raya, mainly in Java and Bali. ‘Wayang’ means ‘shadow’ in Javanese and ‘kulit’ means leather or skin. ‘Wayang’ has come to mean ‘puppet’ in Bahasa Indonesia, and is applied to the three forms of Javanese puppets: wayang kulit (shadow puppets), wayang klitik (flat wood puppets), and wayang golek (rod puppets).

The wayang kulit art form may be over 800 years old. The fact that the story is told using shadows is very important since moving shadows can be seen but never touched. One belief was that the souls of the ancestors were brought to life as shadows that provided advice and support. 

So wayang kulit performances have a spiritual and magical significance for Javanese and Balinese people. Everyone present at a shadow puppet performance is believed to be protected from evil influences while the play lasts. People will sponsor a performance to give thanks for someone recovering from illness. 

The screen represents the white universe in which people live their lives. The bright side of the screen represents the material world in which we live. The darker side represents the mysterious after-life. The blencong or oil lamp was often in the shape of the Garuda bird, and represents the rays of the sun which give life to every living thing. 




The puppets are usually made from flattened buffalo hide with buffalo horn rods for support. The only moving parts are one or both arms, which may be hinged at the shoulder and elbow. The traditional cast of characters are intricately patterned and coloured. There are as many as 500 wayang kulit figures in an aristocratic set and as few as 100 in a village set. The manufacture of the puppets is very complicated and involves several different artisans.

Balinese puppets tend to be more realistic than those of Java. This may reflect religious differences between mainly Hindu Bali and mainly Muslim Java, as Islam forbids the depiction of the human form.
There may be several puppets for the one character. Depending on what the character is doing, the puppet will be shown with different clothing and with different colours to indicate its mood. Gold represents harmony, love of beauty and the finer things in life; dignity and calmness. 

Black represents more reflective, inward-looking characteristics, calmness and control; but sometimes anger and strength. Red represents physical strength, but a tempestuousness or fury. White represents flexible characters that are knowledgeable and full of life, as well as innocence, youth or purity.
komentar | | Read More...

Blog Archive

 
| | | | | |
© . Visit Indonesia Raya . .
Design Template by | Support by | Powered by